Sabtu, 22 Februari 2025 – Divisi Sosial dan Agama (SOSGAM) Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Jambi (HIMASI UNJA) sukses menggelar kegiatan Belajar Bersama Anak Disabilitas di Aula Yayasan Ambung Harsa. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian mahasiswa terhadap pendidikan inklusif, sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak disabilitas untuk belajar dengan cara yang menyenangkan dan penuh semangat. Melalui acara ini, HIMASI UNJA berupaya menanamkan nilai-nilai sosial dan keagamaan serta mendorong kesetaraan dalam akses pendidikan bagi semua kalangan.

Acara ini dihadiri oleh mahasiswa, dosen, anak-anak disabilitas, serta para pembina dari Yayasan Ambung Harsa. Beragam aktivitas edukatif dan interaktif disajikan untuk meningkatkan keterampilan sosial sekaligus mengembangkan potensi anak-anak disabilitas. Beberapa sesi menarik yang digelar meliputi sharing session, permainan interaktif, serta sesi belajar bersama.

Sebelum kegiatan berlangsung, HIMASI telah menggalang sumbangan sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak di Yayasan Ambung Harsa. Sumbangan yang berhasil dikumpulkan berasal dari mahasiswa, dosen, serta donatur lainnya yang turut mendukung acara ini. Bantuan tersebut kemudian diserahkan langsung kepada pihak yayasan sebagai bentuk dukungan untuk memenuhi berbagai kebutuhan anak-anak di sana.
Keseruan dan Keakraban dalam Kebersamaan
Sejak sesi perkenalan dimulai, antusiasme peserta sudah terlihat. Anak-anak dengan penuh semangat berbagi cerita tentang hobi dan prestasi mereka, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih impian. Mereka adalah anak-anak luar biasa dengan segudang prestasi yang membanggakan. Tak hanya itu, suasana semakin akrab ketika mereka menceritakan keseharian mereka, mulai dari aktivitas yang biasa dilakukan, hal-hal kecil yang membuat mereka bahagia, hingga perjalanan inspiratif mereka dalam mengembangkan diri. Meski memiliki keterbatasan, mereka mampu berkuliah dan bahkan membangun usaha sendiri, seperti berjualan minuman jeruk peras hingga membuka coffee shop. Kisah mereka menjadi bukti nyata bahwa ketekunan dan semangat juang dapat membawa seseorang melampaui batas yang ada. Mahasiswa pun tak kalah antusias memperkenalkan diri, berbagi pengalaman kuliah, serta cerita menarik dari kehidupan sehari-hari mereka. Interaksi ini bukan sekadar pertukaran cerita, tetapi juga membangun jembatan pemahaman yang lebih dalam, menciptakan kedekatan yang hangat, serta menumbuhkan rasa saling menginspirasi satu sama lain.

Kegembiraan semakin memuncak saat permainan menebak suara berlangsung. Suasana riuh dengan tawa dan sorak semangat ketika anak-anak berlomba menebak suara yang ditirukan oleh mahasiswa. Permainan semakin menarik dengan sesi tebak-tebakan seputar kisah nabi, yang tidak hanya menghibur tetapi juga menambah wawasan keagamaan mereka. Tak hanya bermain, mahasiswa juga mendapat kesempatan berharga untuk belajar bahasa isyarat langsung dari anak-anak di sana, hal ini menciptakan komunikasi inklusif di antara mereka dan anak-anak merasa lebih dihargai serta didengar.
Sebagai penutup, sesi menyanyi bersama menciptakan suasana yang hangat dan penuh keceriaan. Anak-anak dan mahasiswa HIMASI bernyanyi dengan semangat, menikmati momen kebersamaan yang terjalin sepanjang acara. Lagu-lagu yang dinyanyikan bersama tidak hanya menambah keseruan, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kebersamaan. Momen ini semakin mempererat hubungan antara mahasiswa dan anak-anak disabilitas, meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang terlibat.
Dampak dan Harapan Kedepan
Pihak Yayasan Ambung Harsa menyambut baik kegiatan ini serta mengapresiasi inisiatif mahasiswa dalam mendukung pendidikan inklusif. Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut di masa mendatang agar semakin banyak anak-anak disabilitas yang merasakan manfaatnya. Selain itu, mereka juga berharap semakin banyak pihak yang peduli dan berkontribusi dalam mendukung perkembangan anak-anak disabilitas ke depannya.
Kegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa. Mereka belajar memahami lebih dalam tentang pentingnya komunikasi inklusif, khususnya melalui bahasa isyarat. Lebih dari itu, mereka menyadari bahwa keterbatasan fisik tidak membatasi kreativitas dan inovasi, seperti yang terlihat dari aktivitas dan berbagai prestasi yang didapatkan oleh anak-anak disabilitas.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa inklusivitas dalam pendidikan dapat terwujud melalui kebersamaan, kepedulian, dan semangat untuk saling belajar. Semoga acara serupa dapat terus berlanjut, memberikan dampak positif, serta menginspirasi lebih banyak pihak untuk ikut serta dalam mendukung pendidikan yang inklusif bagi semua orang.
Penulis: Putry Maharani/HUMAS